Pages

Tuesday, 7 June 2016

Bike To Beach: Tanjung Kesirat


Menjelang Ramadan tahun 2016, saya bersama Noah, dan Bombom (rekan pergowesan abadi) merencakan untuk sepedaan sambil nge-camp dan terpilihlah Tanjung Kesirat sebagai destinasinya.

Nge-camp tapi tidak membawa tenda, hanya matras dan banner untuk selimut dan pelindung jika hujan tiba-tiba datang. Pendekar.

*Berangkat via Siluk

Pada awalnya rencana berangkat dari kawasan Umbulharjo jam 6.00 hari Sabtu (4/6). Karena masih ngantuk, mager dan lain hal, alhasil baru berangkat jam 8.30 WIB.

Saya dan Noah menghampiri Bombom di Jalan Imogiri Barat. Dengan bawaan yang lumayan berat dan semua terpusat di bagian punggung ditambah cuaca yang amat menyengat membuat rombongan kecil ini kewer-kewer ketika melahap tanjakan Siluk. Teh anget sek ndak semaput. :))


Perlahan tapi pasti, kami berhasil sampai Tanjung Kesirat jam 13.50 WIB. Total 5 jam 30 menit perjalanan berangkat dari Umbulharjo ke Tanjung Kesirat dengan waktu bergerak 2 jam 30 menit. Berarti total istirahatnya 3 jam sendiri. :))

*Tanjung Kesirat

Tanjung Kesirat terletak di Desa Girikarto, Kecamatan Panggang, Kabupaten Gunungkidul. Banyak juga yang menyebut Gesirat, di beberapa mesin pencarian lebih dikenal dengan Pantai Kesirat. Saya pribadi lebih suka menyebut Tanjung Kesirat karena memang beberapa papan petunjuk menyebut demikian, lagipula lanskap Tanjung Kesirat berupa tebing tinggi dan tidak terdapat hamparan pasir layaknya pantai. Jadi, jangan berharap anda bisa main pasir dan bercengkerama dengan ombak. Jika ingin bermain pasir dan ombak, anda bisa bergerak ke Pantai Wohkudu yang lokasinya tak jauh dari Tanjung Kesirat.


Fasilitas masih minim di lokasi ini. Tapi tidak perlu khawatir. Warung, parkiran, dan toilet sudah tersedia di lokasi. Hanya saja air untuk toilet masih sangat terbatas. Meski demikian, tidak menghalangi niat pengunjung untuk ngecamp dan bermalam di Tanjung Kesirat.

*Ramai Pengunjung

Terpantau pandangan mata, Malam Minggu saat itu kurang lebih ada 6-7 tenda yang berdiri di Tanjung Kesirat. Cukup ramai, mungkin karena malam minggu malam yang asyik. #uopo

Ada rombongan yang datang sekedar mendirikan tenda dan bercengkerama tanpa gangguan gadget (karena memang belum tercover signal di daerah ini) ataupun yang datang dengan tujuan memancing.

Oiya, bagi yang berniat nge-camp hanya berdua dengan pasangan, pastikan anda punya bukti sah atau setidaknya argumen yang kuat bahwasannya anda tidak berbuat senonoh. Karena pemuda setempat pasti rutin melakukan ronda malam dan mendatangi satu-satu tenda yang berdiri di Tanjung Kesirat.

*Akhirnya Mandi Juga

Seharusnya sebelum memutuskan untuk pulang, kami berencana untuk masak mie instan + telur untuk suplai energi, namun karena stok air menipis dan suasana dirasa kurang mendukung kami memutuskan untuk cari sarapan di jalan pulang.

Jam 8.00 WIB hari Minggu (5/6) kami mulai perjalanan pulang. Energi sudah terkuras di awal karena harus menggotong sepeda dari lokasi camping ke jalan utama. Belum lagi jalanan yang terus menanjak. Alhasil, baru sampai parkiran Pantai Wohkudu sudah rehat cukup lama. Teh anget sek ndak semaput :))

Jalanan yang naik turun setelah keluar dari kawasan pantai (lagi-lagi) ditambah cuaca terik yang menjadi kambing hitam kewer-kewernya tiga pemuda perjaka ini.

Sampai pada akhirnya di daerah Giripurwo sekitar 14 kilometer Tanjung Kesirat, tim memutuskan untuk berhenti di masjid untuk mandi karena badan kami yang penuh keringat belum tersentuh air seharian.

*Nasi Rames Murah

Untungnya di depan masjid ada warung kelontong dan di sebelah warung kelontong ada warung makan. Beli air mineral lagi. Jika ditotal, sudah 10 botol air mineral 1,5 liter dihabiskan bertiga selama perjalanan pulang-pergi.

Sarapan sek ndak semaput. Perut kami akhirnya terisi nasi setelah seblumnya mie lagi mie lagi. Di warung makan ini (saya lupa namanya) saya sangat merekomendasikan kepada anda untuk mampir. Selain masakannya enak, harganya sangat murah. Ditambah sang pemilik warung sangat baik hati.

Baru mulai makan, sang pemilik sudah menawarkan pada kami untuk dibuatkan sambal bawang. Kami pun dengan senang hati menerima tawaran itu. Setelah kenyang makan, kejutan datang. Potongan buah pepaya dan semangka segar tersaji untuk kami.

Total kami menghabiskan 3 porsi nasi rames dengan lauk lele, telur, tempe garit 3, kerupuk 6, teh 3.

Tebak habis berapa, hayo?

Cuma 26 ribu. Buahnya ga diitung, itu bonus karena sang pemilik habis panen dari kebun sendiri. Semoga warung makannya senantiasa ramai dan sang pemilik dilimpahi berkah. Maaf ya bu, saya lupa nama warungnya, jadi ga bisa dipromoin di sini :|

*Pulang via Parangtritis

Badan segar setelah mandi dan perut terisi membuat tim liyer-liyer ngantuk. Kami bergerak menuju arah Parangtritis dengan kecepatan sangat rendah. Masa kecepatan rata-rata pulangnya 13.9 km/jam doang :))



Menjelang Parangtritis bonus berupa turunan sangat menggiurkan. Turunan dari ketinggian 351 mdpl terjun bebas ke 0 mdpl. Jalanan lumayan sempit, berkelok-kelok dan kendaraan bermotor cukup ramai, jadi hati-hati ketika menuruni jalur ini.

Dari Parangtritis menuju Umbulharjo inilah ketahanan pantat sangat teruji. Jalan lurus seakan tak berujung membuat pantat panas dan kesemutan di sekitar selangkangan. :|

Dari 7 jam 30 menit waktu pulang keseluruhan, waktu bergeraknya hanya 4 jam saja. Waktu istirahatnya 3,5 jam sendiri. :))

No comments:
Write komentar
Recommended Posts × +