Pages

Saturday, 19 September 2015

Keramahan Pantai Banyu Tibo & Pantai Biyoro


Pantai Banyutibo


Ketika pertama melihat foto Pantai Banyu Tibo di laman pencarian gambar, ekspektasi saya sangatlah tinggi. Pantai yang masih asri, dengan air terjun yang tentu saja menjadi pesona utamanya. Ternyata saya salah, pesonanya justru ada pada keramahtamahan warganya.

Google Maps: Boleh percaya tapi jangan sepenuhnya

Banyu Tibo terletak di Dusun Wiodoro, Desa Widoro, Kecamatan Donorojo, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Perjalanan 97 kilometer dari Jogja dimulai pada Sabtu, 12 September 2015, dini hari. Istirahat sejam di indomaret point Wonosari, gara-gara keasyikan nonton NET. TV :))

Setelah menghabiskan beberapa minuman dingin, melanjutkan perjalanan menuju Pantai Banyu Tibo. Awalnya lancar-lancar saja mengikuti google maps yang jadi panduan untuk menuju lokasi, namun kepercayaan pada teknologi itu berkurang drastis ketika tiba-tiba menemukan penanda yang dipasang warga, menunjukkan ke selatan ke arah Pantai Buyutan, ke barat adalah Pantai Banyu Tibo.

"Wah kebablasen. Suog, google maps!"

Untunglah ada penduduk sekitar yang lewat dan menjelaskan sekaligus membenarkan kalo posisi kami saat itu kebablasen.

"Ke sana sekitar satu kilometer, Mas. Nanti ada papan penunjuknya, belok kiri."

Kemudian kami matikan google maps, dan berputar arah menuju jalan yang benar.

Setelah satu kilometer putar arah, ternyata memang ada papan penunjuk ke Pantai Banyu Tibo. Sebenarnya terlihat jelas jika dari arah timur, namun yang dari arah barat papan penunjuknya terlalu kecil dan berada di posisi gelap, sehingga tak begitu nampak. Salah kami juga sih ke pantai malem-malem. Hahaha

Di simpang itulah, ada pos retribusi untuk masuk kawasan Pantai Banyu Tibo, dan di simpang itu pula adalah jalanan aspal terakhir, karena setelahnya hanya jalan beton dua lajur yang sudah mulai rusak.

Pantai Banyu tibo

Sampai di sana, gelap. Banget. Ya iyalah. Sudah ada beberapa pengunjung yang datang duluan dan tidur di warung-warung sekitar pantai. Karena masih gelap, bikin kopi dan masak mie instan sambil nunggu langit terang untuk kemudian menentukan lokasi mendirikan tenda, karena mata juga sudah mulai ngantuk. Jangan harap bisa melihat sunrise atau matahari terbit di pagi hari karena jelas-jelas tertutup tebing.

Di saat pengunjung lain sudah mulai bergegas bangun kemudian foto-foto dengan latar belakang pantai, kami malah mendirikan tenda, kemudian tidur. Bangun tidur jam 10.30 karena matahari mulai menyengat dan di dalem tenda seperti dioven.

Melihat ke luar tenda, dan kaget ternyata makin banyak mobil dan motor yang terparkir. Itupun masih terbilang sepi, menurut penduduk sekitar biasanya lebih rame dari ini saat akhir pekan.



"Jebul pantai ne rame banget. Salah iki nge-camp neng kene. Suog."

Kami pikir bakal sepi dan bisa bebas main di pantai dan mandi di bawah air terjun, ternyata tidak sebebas itu. Pengunjung hanya dibolehkan turun melewati tangga yang terbuat dari bambu saat air laut surut karena air saat pasang bisa menyentuh air terjun. Jangan lupa bawa duit untuk sumbangan sukarela ketika anda  turun tangga untuk bermain di sekitar air terjun.

Di tebing sekitar pantai, berjejer warung makan yang dengan leluasa pengunjung bisa melihat ke arah air terjun. Kami jadi berfikir dua kali, mau mainan air di Banyu Tibo, atau pindah ke tempat yang lebih sepi. 

Tragedi mie dan kopi

Setelah ambil berapa gambar di Banyu Tibo, kami coba untuk jalan menyusuri bukit kecil, berharap mendapatkan pantai yang lebih sepi. Tenda ditinggal di tempat semula, kami berjalan membawa kompor, gas, dan peralatan masak-memasak lainnya.

Sampai di tengah-tengah pegunungan, terjadi perdebatan kecil antara saya dan rekan saya.

"Mie karo kopine mbok gowo to?"
"Loh? Tak kiro kowe sek nggowo"
"syuk!"
"jinguk!"

Kita hanya membawa kompor, gas, dan peralatan masak. Ngga bawa mie instan dan kopi. Suog.

Pantai Biyoro

Sekitar sepuluh menit berjalan, sesuatu yang indah muncul di depan mata. Pantai yang lebih sepi! Pantai Biyoro. Ada air terjun juga, meskipun kecil, yang penting air tawar :))

Pantai Biyoro

  






Tanpa basa-basi, taruh tas, lepas baju, langsung mainan air sekalian mandi. Seger banget karena waktu itu air laut malah lebih dingin dibanding air tawar meskipun di siang hari.

Akses ke Pantai Biyoro sebenarnya bisa ditempuh lewat pinggir tebing pantai Banyu Tibo ke arah timur, namun hanya bisa dilalui saat air surut.

Setelah berenang di pantai dan lapar, kami memutuskan untuk memindahkan tenda ke bukit sekitar Pantai Biyoro sekalian bawa mie dan kopi yang tertinggal.

Kembali Ke Banyu Tibo lagi melipat tenda, terus balik ke Biyoro untuk mendirikan tenda, baru setelah itu kami bisa merealisasikan makan siang yang tertunda akibat ketololan kita berdua.

Selain sepi, pantai biyoro ada tebing tinggi yang bisa meneduhkan dari matahari terik. Masak di pinggir pantai, makan siang, setelah itu ketiduran di pinggir pantai, main air lagi sembari menunggu momen saat matahari tenggelam di ufuk barat. Sungguh indah.




Ramah tamah penduduk sekitar

Setelah menikmati matahari tenggelam, kami kembali ke Banyu Tibo untuk memastikan motor yang terparkir aman, sekalian titip motor sama penduduk sekitar dan memberi tahu bahwa kami bermalam di bukit sekitar Pantai Biyoro.

Sampailah di salah satu warung yang kebetulan masih buka padahal malam sudah semakin gelap dan pengunjung sudah sepi. Pesan dua gelas kopi hitam sebagai penyeimbang semilirnya angin pantai sambil berbincang dengan pemilik warung, suami-istri yang kebetulan pernah lama tinggal di Jogja.

Suami-istri ini doyan sekali bercerita, apapun diceritakan pada kami. Mulai dari cerita tentang membantu pengunjung yang kehabisan bensin, sampai cerita mengusir orang yang ritual di Pantai Banyu Tibo.

Penduduk sekitar Pantai Banyu Tibo melarang keras orang yang melakukan ritual di kawasan pantai karena setiap ritual biasanya meminta tumbal. Mereka sangat menjaga keamanan pengunjung di Pantai Banyu Tibo. Saat banyak pengunjung yang turun mendekati air terjun, warga memantau dari dekat, memastikan bahwa pengunjung tak menemui bahaya.

Warga juga pernah membantu pengunjung yang mengalami pecah ban saat mengunjungi Banyu Tibo. Mereka mencarikan ban dalam hingga ke kota tanpa dipungut biaya. Bahkan ada mobil yang habis bensin, warga pun membantu mencarikan bensin sampai ke Kecamatan Pracimantoro, tanpa dipungut biaya sepeser pun.

Mereka juga gotong-royong untuk membuat jalan masuk ke pantai menggunakan dana retribusi dan parkir yang masuk. Menurut kabar, tahun 2016 akan dilakukan pengaspalan dan pelebaran jalan, sehingga memudahkan pengunjung yang akan menjangkau Pantai Banyu Tibo dan pantai-pantai di sekitarnya.

Dari cerita suami-istri itu pula ada mitos tentang landak di bukit tempat kami mendirikan tenda.

"Kalau nemu landak jangan dibunuh, kalo nemu rumah landak jangan dirusak"

Dulu pernah ada warga yang kesal karena tanamannya dirusak oleh landak, lantas dia meluapkan kekesalannya dengan merusak rumah landak tersebut. Beberapa waktu kemudian satu persatu keluarganya meninggal dalam rentang waktu yang tidak terlalu lama. Boleh percaya boleh tidak.

Warga sangat ramah kepada pengunjung, maka dari itu jangan sungkan untuk bertanya karena mereka pasti akan membantu. Saat bermain di Pantai Biyoro, kami dipanggil oleh warga yang akan mencari bulu babi di pantai. Dia mengingatkan air laut sudah pasang, maka kalo ingin kembali ke Banyu Tibo tidak bisa melewati pinggiran pantai, harus melalui bukit.

Untuk anda yang ingin bermalam di Banyu Tibo, pemilik warung mempersilakan untuk tidur di warungnya. Lampu dan colokan listrik kalo mau ngecharge gadget akan disediakan dengan sumber listrik berupa aki. Tikar juga disediakan plus kalo merasa dingin karena angin pantai, bisa dipasang kirai bambu untuk menghalau angin. Pemilik warung mengaku tak akan memungut biaya untuk itu.

"Asal jajan dan makannya di sini, mas" Ujarnya sambil tertawa.

Harga di warung ini relatif murah bahkan. Keesokan harinya sebelum pulang saya pesan nasi + ikan laut + sambel, kopi hitam, dan es teh dan , hanya perlu mengeluarkan uang Rp. 12.000.

Warung yang dimaksud yang bertanda merah


Sebenarnya banyak pantai-pantai di sekitar Banyu Tibo yang bisa dijangkau hanya dengan jalan kaki. Jika merasa Pantai Banyu Tibo terlalu ramai untuk bermain air, di sebelah baratnya ada Pantai Kijingan dan sebelah timurnya ada Pantai Biyoro. Bagi yang ingin mendirikan tenda, Bukit sekitar Pantai Kijingan banyak lahan datarnya, atau bisa coba di bukit Pantai Biyoro.

1 comment:
Write komentar
Recommended Posts × +