Bumi tidak selamanya merasakan siang, tidak akan selamanya juga merasakan malam. Ada saatnya ketika bumi merasakan panasnya sinar matahari, ada pula saatnya bumi merasakan dinginnya malam.
Pada saat yang bersamaan, belahan bumi yang terkena sinar matahari akan merasakan terangnya sinar matahari, sedangkan di belahan bumi lain sedang merasakan kegelapan dan dingin.
Analogi yang sama terhadap kehidupan manusia. Ada kalanya saat kita sumringah, ada kalanya juga saat kita terpuruk. Pada saat kita sumringah sering kali kita tidak menyadari bahwa di saat yang bersamaan ada orang yang sedang terpuruk, dan hal itu lah yang menyebabkan kita tidak siap untuk menghadapi "jadwal" keterpurukan kita selanjutnya.
Pada saat kita terpuruk, terimalah bahwa keterpurukan kita itu memang sudah menjadi "jadwal" kita dan yakinlah bahwa keterpurukan kita tidak akan selamanya. Kita hanya di jadwalkan sementara untuk merasakan malam
Pada saat yang bersamaan, belahan bumi yang terkena sinar matahari akan merasakan terangnya sinar matahari, sedangkan di belahan bumi lain sedang merasakan kegelapan dan dingin.
Analogi yang sama terhadap kehidupan manusia. Ada kalanya saat kita sumringah, ada kalanya juga saat kita terpuruk. Pada saat kita sumringah sering kali kita tidak menyadari bahwa di saat yang bersamaan ada orang yang sedang terpuruk, dan hal itu lah yang menyebabkan kita tidak siap untuk menghadapi "jadwal" keterpurukan kita selanjutnya.
Pada saat kita terpuruk, terimalah bahwa keterpurukan kita itu memang sudah menjadi "jadwal" kita dan yakinlah bahwa keterpurukan kita tidak akan selamanya. Kita hanya di jadwalkan sementara untuk merasakan malam
No comments:
Write komentar